Belajar Mikrotik: Notifikasi PPPoE Menggunakan Proxy

Belajar Mikrotik: Notifikasi PPPoE Menggunakan Proxy

Notifikasi PPPoE Menggunakan Proxy


Dalam mendistribusikan jaringan kita bisa menggunakan beberapa metode, seperti PPPoE, Hotspot, atau bisa langsung didistribusikan secara plain. Biasanya untuk layanan Internet yang berbayar karena membutuhkan manegement yang lebih metode yang digunakan adalah PPPoE atau Hotspot. 

Pada artikel kali ini, kami akan membahas bagaimana cara membuat notifikasi client PPPOE yang sudah expired atau belum melakukan pembayaran. Yaitu dengan mengkombinasikan dengan fitur web proxy. 

Contoh topologinya, sebuah router menggunakan service pppoe untuk terkoneksi ke client. Dan terdapat 2 user yang menggunakan layanan yang berbeda. User1 berlangganan 7 hari dan user2 berlangganan 30 hari. 

 

Jika ternyata client sudah melebihi batas waktu langganan, maka internet akan diputus. Saat client mencoba terkoneksi lagi, maka akan terdapat notifikasi dari webproxy untuk melakukan pembayaran. Dan client tidak akan bisa mengakses internet sebelum membayar tagihan.

Untuk menentukan berapa lama client bisa mengakses internet, nantinya kita akan gunakan scheduler. Detail konfigurasinya seperti berikut :

PPPOE SERVER

Buat PPPOE Server menuju ke interface yang menuju ke client yaitu ether2.

 

Selanjutnya buka menu IP>Pool, tambahkan IP Pool yang akan digunakan untuk client. Akan terdapat 2 range IP yang akan digunakan client pppoe. 

Pool pppoe-active=10.1.1.2-10.1.1.254 
Pool pppoe-expired=10.1.2.1-10.1.2.254

Pool active untuk client yang boleh mengakses ke internet. Sedangkan pool expired digunakan untuk client yang tidak boleh mengakses internet dan akan mendapatkan notifikasi webproxy.

 

Selanjutnya, masuk ke PPP>Profiles untuk membuat profile baru. Tambahkan 2 profile untuk pppoe active dan pppoe expired. Local address adalah IP yang akan digunakan PPPOE Server saat terdapat client terkoneksi, kita isi 10.1.1.1.

Sedangkan Remote Address adalah IP yang akan diberikan ke client, pilih IP Pool yang sudah dibuat sebelumnya. 

 

Untuk mempermudah, pada profile pppoe expired kita tambahkan address list baru. Agar setiap client yang terkoneksi menggunakan profile ini akan ditambahkan ke address-list secara otomatis.

 

Setelah pembuatan profile selesai, tambahkan user baru berdasarkan client yang dimiliki. Pilih profile pppoe active agar client bisa mengakses internet. 

 

Web Proxy

Buka menu IP>Webproxy lalu aktifkan webproxy dengan mencentang Enabled. 

Tambahkan rule baru pada ACCESS untuk client pppoe yang menggunakan pool IP pppoe-expired.

 

Tambahkan rule baru untuk memblokir semua client yang menggunakan IP 10.1.2.0/24 atau IP Pool PPPOE Expired. Saat client ingin mengakses ke internet (port 80) akan di deny, dan akan terdapat halaman Denied pada browser client. 

 

Firewall NAT 

Untuk memaksa client pppoe-expired menggunakan webproxy, kita tambahkan rule NAT baru dengan action Redirect. Buka menu Firewall>NAT lalu tambahkan baru dengan chain dst-nat. 

Scr-address list bisa menggunakan pppoe-expired dengan action redirect. Parameter To-Ports pastikan sama dengan port webproxy sebelumnya, yaitu 8080.


 

Scheduler

Scheduler digunakan untuk menjalankan script secara berkala, berdasarkan berapa lama client berlangganan internet. Tambahkan rule baru yang akan berfungsi untuk merubah profile user dari pppoe-active menjadi pppoe-expired. 

Sebagai contoh untuk user1, saat waktu 7 hari habis maka profile user1 akan berubah menjadi pppoe-expired. Dan client akan disconnect dari jaringan atau pppoe akan terputus.

 

Sedangkan user2, karena langganan 30 hari maka interval yang digunakan adalah 30d dengan script yang sama. Saat waktu habis, maka client akan terkoneksi menggunakan profile pppoe-expired.

 

Firewall Filter

Untuk mencegah user - user yang sudah expired masa langganannya mengakses service lain di internet selain http, perlu kita tambahkan rule drop untuk paket forward yang berasal dari user PPPoE expired pada Firewall Filter seperti berikut : 

 

Hasil

Saat client menggunakan profile-active, bisa mengakses internet seperti biasa.

Tetapi jika profile di pindah ke pppoe-expired, client akan diblokir oleh webproxy dan tidak bisa mengakses internet sama sekali. 

 



Artikel ini dibuat pada tanggal 19 Maret 2021


Sumber: https://citraweb.com/ 

 

Belajar Mikrotik: [NETWATCH] Monitoring Perangkat menggunakan Telegram

Belajar Mikrotik: [NETWATCH] Monitoring Perangkat menggunakan Telegram

[NETWATCH] Monitoring Perangkat menggunakan Telegram


Netwatch merupakah salah satu dari sekian banyak tool yang sudah disediakan oleh Router Mikrotik. Tool Netwatch ini berfungsi untuk melakukan monitoring terhadap suatu host di jaringan, sehingga dengan tool Netwatch ini kita bisa melakukan pemantauan yang lebih baik lagi terhadap perangkat-perangkat yang terdapat di jaringan kita. 

Tool Netwatch bekerja dengan cara mengirimkan pesan ICMP ke perangkat setiap 1 menit sekali (defaultnya), kemudian jika perangkat tidak merespon dalam jangka waktu 1000ms maka akan dianggap down. Pada tool Netwatch terdapat dua tab yaitu tab UP dan tab Down. Kedua tab ini yang bisa digunakan untuk menentukan action apa yang akan digunakan. Untuk action yang akan digunakan pun akan sangat fleksibel sekali, karena action yang akan digunakan nanti berupa script. 

Kami sudah pernah melakukan konfigurasi Netwatch dengan beberapa contoh kasus, yaitu mengirimkan pesan di LOG Router hingga mengirimkan notifikasi perangkat via E-mail. Pada artikel kali ini kami mencoba membahas mengenai [Netwatch] monitoring Host dengan Telegram.

Untuk mendapatkan informasi perubahan kondisi link pada sebuah host, maka kita perlu menyiapkan bot telegram terlebih dahulu yang nantinya akan digunakan untuk mengirimkan pesan notifikasi ke dalam group telegram.

Konfigurasi:

1. Pembuatan bot pada telegram dapat kita lakukan dengan menggunakan @BotFather. Klik start button atau kirimkan perintah /start ke @BotFather sehingga akan muncul daftar perintah yang dapat kita gunakan dengan bot tersebut.

2. Selanjutnya kirim perintah /newbot, akan muncul reply atau respon sebagai berikut dari @BotFather.

3. Setelah muncul respon seperti diatas kirimkan nama bot yang akan kita gunakan, sebagai contoh disini kita akan menggunakan nama : Cweb_Monitoring_bot. Jika pembuatan bot sudah berhasil akan muncul balasan yang mengirimkan token untuk mengakses API bot yang sebelumnya kita buat.

4. Undang bot yang telah dibuat ke sebuah group untuk memonitoring notifikasi dari netwatch,

5. Selanjutnya untuk dapat mengirim notifikasi kita perlu mencari tahu chat-id bot kita, caranya dengan mengakses API Bot kita di browser dengan format link sebagai berikut : https://api.telegram.org/bot(TOKEN_BOT)/getUpdates


6. Kemudian remote router kita dan buat sebuah rule Netwatch di menu Tools->Netwatch->Add. Pada tab host terdapat beberapa parameter yang dapat kita tentukan sebagai berikut :

Host : Informasi IP address device yang akan dimonitoring. 
Interval : Netwatch berkerja dengan mengirimkan ping. Pada parameter interval, kita bisa setting jangka waktu router untuk mengirimkan ping untuk mengecek kondisi host. 
Time Out : Jangka waktu berapa lama host akan dianggap down jika ping yang dikirim dari router tidak mendapat respon (unreachable).

Dari contoh gambar diatas rule netwatch akan memonitoring host dengan IP 192.168.77.206. Status host saat ini dalam kondisi "Down", jika pada interval yang ditentukan nantinya router berhasil melakukan ping ke host tersebut maka status akan berubah menjadi "UP".

Agar Netwatch dapat mengirimkan notifikasi ketika terjadi perubahan kondisi host kita perlu menambahkan script pada tab UP dan tab Down. Script pada tab UP akan dijalankan saat host berubah dari kondisi down ke kondisi UP, sebaliknya ketika kondisi host berubah dari UP ke Down maka yang akan dijalankan adalah script pada tab Down.

Contoh script untuk mengirimkan notifikasi ketika host berubah menjadi UP sebagai berikut :

/tool fetch url="https://api.telegram.org/bot(TOKEN_BOT)/sendMessage?chat_id=(CHATID_BOT)&text=(PESAN KETIKA HOST UP)" keep-result=no 
Sedangkan script notifikasi ketika host down sebagai berikut : 
/tool fetch url="https://api.telegram.org/bot(TOKEN_BOT)/sendMessage?chat_id=(CHATID_BOT)&text=(PESAN KETIKA HOST DOWN)" keep-result=no

Pengujian

Berikut hasil yang didapat dengan menerapkan konfigurasi notifikasi perangkat menggunakan Telegram.

Dengan konfigurasi diatas, maka kita bisa mendapatkan informasi-informasi dari perangkat-perangkat yang akan di monitoring, untuk actionnya pun akan sangat fleksibel sekali karena kita bisa menggunakan scripting. 
Fitur Netwatch ini hanya terdapat pada perangkat yang menggunakan operating system Router OS saja.


Artikel berikut dibuat pada : Rabu, 19 Agustus 2020


Sumber: https://citraweb.com

Belajar Mikrotik: Live Chat Telegram pada Hotspot Mikrotik

Belajar Mikrotik: Live Chat Telegram pada Hotspot Mikrotik

Live Chat Telegram pada Hotspot Mikrotik


Salah satu fitur Mikrotik yang populer dan banyak digunakan adalah Hotspot. Hotspot adalah fitur yang sering digunakan jaringan untuk memberikan layanan internet dengan berbasis portal login. Portal login Hotspot pada Mikrotik dapat dimodifikasi sesuai keinginan kita. Misalnya, portal login diganti dengan tampilan yang lebih menarik dengan cara mengedit default html pada Mikrotik. Cara memodifikasi tampilan Hotspot ada pada artikel "Modifikasi Tampilan Login Hotspot". Selain modifikasi html Hotspot secara manual, kita bisa juga menggunakan template Hotspot yang banyak beredar di internet agar tampilan portal login lebih menarik dan informatif. 

Nah, yang akan kita bahas kali ini adalah cara menambahkan live chat ke tampilan login Hotspot. Kadang kala, ada beberapa client yang ingin terkoneksi ke jaringan Hotspot kita. Kita bisa tambahkan live chat pada login Hotspot yang kita miliki agar client bisa mendapatkan username dan password Hotspot dengan cepat. Apabila terdapat client yang membutuhkan bantuan mengenai layanan Hotspot, bisa juga langsung menggunakan live chat. Dengan menggunakan live chat ini, kita sebagai admin jaringan bisa berkomunikasi dengan pengunjung/client untuk tanya jawab tentang layanan Hotspot yang kita kelola atau username dan password untuk masuk ke Hotspot.

 

Artikel ini akan membahas penggunaan Intergram sebagai layanan live chat. Intergram ini akan terhubung langsung pada aplikasi Telegram baik itu di smartphone, windows, linux, MacOS atau pun Telegram web. Layanan dari intergram ini gratis, mudah digunakan, dan dapat dilakukan custom title chat, warna bar chat, dan pesan ucapan lainnya. Teman-teman yang ingin melakukan konfigurasi dasar Hotspot Mikrotik dapat membaca artikel "Setting Dasar Hotspot Mikrotik".

Memperoleh Chat ID Intergram 
Buka aplikasi Telegram. Kemudian, ketikkan @intergram di kolom pencarian (atau dapat klik di sini). Pilih profil dengan username @IntergramBot, kemudian tekan tombol START. Tunggu beberapa saat sampai Intergram mengirimkan pesan yang berisi kode unik (chat id). Simpan Chat ID tersebut  karena Chat ID adalah kode yang nantinya diinputkan pada script halaman login Hotspot Mikrotik agar tersinkronisasi dengan telegram.

 

  

Kita juga bisa menambahkan bot Intergram ke dalam grup Telegram. Caranya adalah klik opsi grup, kemudian Add Members. Lalu, cari dan tambahkan bot Intergram. Ketikkan perintah /start@IntergramBot untuk mendapatkan chat id untuk grup yang telah dibuat. Chat id untuk grup Telegram biasanya terdapat tanda minus (-) di depan kode unik dan jangan lupa sertakan juga tanda minus tersebut.

 

  

Menambahkan kode script di halaman login Hotspot 
Buka menu Files pada router. Kemudian, download file hotspot/login.html dengan cara drag and drop atau dengan klik kanan, pilih Download. 

Buka file login.html tadi menggunakan notepad ataupun text editor lainnya. Lalu, tambahkan script yang akan digunakan untuk terkoneksi ke Intergram. Pasangkan script sebelum penutup tag body (</body>).

<script> window.intergramId = "unique chat id" </script> //chat id intergram masukkan disini 
<script id="intergram" type="text/javascript" src="https://www.intergram.xyz/js/widget.js"></script>
 

Agar tampilan live chat lebih menarik, kita juga dapat melakukan custom pada script tersebut, contohnya adalah sebagai berikut.

<script> 
    window.intergramId = "Your unique chat id"; 
    window.intergramCustomizations = { 
        titleClosed: 'Closed chat title', 
        titleOpen: 'Opened chat title', 
        introMessage: 'First message when the user opens the chat for the first time', 
        autoResponse: 'A message that is sent immediately after the user sends its first message', 
        autoNoResponse: 'A message that is sent one minute after the user sends its first message ' + 
                        'and no response was received', 
        mainColor: "#E91E63", // Can be any css supported color 'red', 'rgb(255,87,34)', etc 
        alwaysUseFloatingButton: false // Use the mobile floating button also on large screens 
    }; 
</script> 
<script id="intergram" type="text/javascript" src="https://www.intergram.xyz/js/widget.js"></script>
 

Selanjutnya, upload kembali file login.html tersebut ke dalam perangkat Mikrotik dengan drag and drop atau tombol Upload. 

Contoh penambahan scriptnya adalah sebagai berikut.

  

Setting Walled Garden 
Saat client belum login hotspot, biasanya client tidak bisa mengakses internet. Agar live chat bisa terhubung dengan admin di telegram, kita harus menambahkan bypass website. Bypass pada hotspot terdapat pada Walled Garden. Tambahkan rule accept untuk tujuan intergram. Masuk ke menu IP > Hotspot > Walled Garden IP List, tambahkan Dst. Host intergram.xyz dengan action accept.

 

Setelah walled garden ditambahkan, akan terdapat live chat di bagian pojok kanan login hotspot. Jika ada client yang ingin terhubung dengan admin, mereka bisa langsung menggunakan live chat tersebut.

 

Apabila ada client atau pelanggan yang mengirimkan pesan via live chat, akan langsung muncul notifikasi pesan. Kita dapat membalas pesan tersebut dengan cara reply pesan yang dimaksud. Hal tersebut dikarenakan bisa saja ada banyak client atau pelanggan yang menggunakan fitur live chat ini untuk menghubungi kita sebagai admin layanan Hotspot.

  

  

Live chat pada Intergram ini bisa memudahkan admin jaringan dan client untuk saling berkomunikasi, khususnya bagi para admin yang menerapkan Hotspot berbayar. Client bisa langsung mendapatkan service Hotspot dengan menghubungi admin lewat live chat. Ini lebih praktis dibandingkan dengan komunikasi dengan SMS, WhatsApp, atau email.

Selain di halaman login, live chat juga bisa ditambahkan di halaman lain, seperti halaman pada saat client logout atau client melihat status hotspot. Apabila di halaman status juga ingin ditambah live chat, anda harus menambahkan script di atas pada file status.html. Hal ini bertujuan agar setiap client membuka halaman login dan status, akan terdapat live chat juga. Penjelasan mengenai file yang ada pada Hotspot Mikrotik ada pada artikel "Modifikasi Tampilan Login Hotspot".

Dokumentasi mengenai Intergram dapat diakses pada halaman berikut.

https://github.com/idoco/intergram


Sumber: https://citraweb.com

Belajar Mikrotik: DNS over HTTPS di MikroTik RouterOS v6.47

Belajar Mikrotik: DNS over HTTPS di MikroTik RouterOS v6.47

DNS over HTTPS di MikroTik RouterOS v6.47


 Di mikrotik routeros versi 6.47 ini ada fitur baru yang sangat ditunggu tunggu. Fitur baru ini bisa mengatasi permasalahan teman teman terhadap pemaksaan dns server oleh isp. Fitur baru ini adalah DNS over HTTPS atau biasa disebut dengan DoH. DoH ini me resolve DNS menggunakan protokol HTTPS dan tentunya menggunakan port 443 sehingga sangat kecil kemungkinan untuk diblokir oleh ISP.

Untuk mengetahui DNS yang sedang kita gunakan bisa menggunakan website dnsleaktest.com

 

Tujuan utama dari penggunaan DoH ini adalah untuk memberikan privasi dengan menghilangkan MITM. Sebagai contoh disini saya menggunakan ISP dan ISP tersebut menerapkan kebijakan pemaksaan dns menggunakan dns milik ISP tersebut. sehingga ketika client mengganti dns mereka tetap saja client tersebut menggunakan dns yang diberikan oleh isp. Hal ini membuat tidak nyaman bagi pengguna, misalkan dns milik ISP tersebut memblokir suatu website contohnya mikrotik.co.id

 

Contoh topologi yang mungkin Anda digunakan adalah seperti berikut:

 

Roter ISP adalah router yang memaksa client dibawahnya untuk menggunakan DNS milik ISP tersebut. Router client adalah router yang akan menggunakan DNS over HTTPS.

Pastikan menggunakan routeros versi 6.47 
Jika versi routeros masih dibawah 6.47 maka bisa di update terlebih dahulu melalui system → package → check for update. Per tanggal 3 Juni 2020 versi 6.47 sudah masuk kanal stabil.

 

Percobaan mengganti DNS 
Misalkan saat ini saya menggunakan DNS bawaan ISP, kemudian saya mengganti DNS ke DNS cloudflare / 1.1.1.1 
Menu ada di IP → DNS.

 

Ketika saya coba kembali, situs mikrotik.co.id masih terblokir. Dan ketika melakukan cek DNS menggunakan dnsleaktest.com masih menggunakan server yang sama. Ini menandakan bahwa DNS yang digunakan masih mengikuti DNS ISP.

Kemudian kita mencoba untuk menggunakan DNS over HTTPS 
Dengan konfigurasi seperti berikut: 

Use DoH Server: Server DoH. Bisa Anda dapatkan di situs penyedia DNS seperti cloudflare, google, quad9, atau yang lain 

*)Opsional: 
Untuk resolve domain dari DoH Anda bisa menggunakan server DNS biasa atau menambahkan IP dari DoH ke DNS Static 
Untuk Verify DoH Certificate, Anda perlu menggunakan certificate, Anda bisa mencarinya di internet. 
Contoh sertifikat yang bisa digunakan:

https://cacerts.digicert.com/DigiCertGlobalRootCA.crt.pem 
https://curl.haxx.se/ca/cacert.pem 

 

Setelah menerapkan DoH, situs mikrotik.co.id yang tadinya di blokir oleh DNS milik ISP bisa dibuka dan ketika melakukan dns leak test sudah menggunakan server DoH yang kita gunakan.

 

Berikut perbedaan cloudflare esni test ketika menggunakan DoH dari cloudflare: 

Sebelum menggunakan DoH

 

Setelah menggunakan DoH 

 

Beberapa server DoH yang pernah kami test adalah: 

Cloudflare 
https://dns.cloudflare.com/dns-query

 

Adguard 
https://dns.adguard.com/dns-query

 


Clean Browsing 
https://doh.cleanbrowsing.org/doh/family-filter/ 

 

Google 
https://dns.google/dns-query

 

Quad9 
https://dns9.quad9.net/dns-query

 

*)Catatan:

Tidak menutup kemungkinan walaupun DoH ini sudah menggunakan protokol HTTPS dan port 443 tetap bisa diblokir oleh ISP. Bisa saja ISP tersebut memblokir Domain atau IP dari DoH tersebut. 

*)Penting! 
Setelah melakukan perubahan pada konfigurasi DNS, sebelum melakukan test diwajibkan untuk menghapus cache dns terlebih dahulu baik di router maupun di perangkat end device seperti laptop. 

==

by: Fathurrahman (Tech. Support Officer) 


Sumber: https://citraweb.com/

Belajar Mikrotik:  [TELTONIKA] GPS Tracking Pada RUT955

Belajar Mikrotik: [TELTONIKA] GPS Tracking Pada RUT955

 [TELTONIKA] GPS Tracking Pada RUT955


GPS (Global Positioning System) merupakan sistem navigasi berbasis satelit yang sudah familiar sekali untuk penggunaannya saat ini. Dengan GPS ini kita bisa melakukan berbagai macam kebutuhan seperti mengetahui suatu koordinat, melacak perangkat, dll. Pada kesempatan kali ini kami akan mencoba melanjutkan seri fitur dari Teltonika, yaitu GPS. 
Contoh implementasi beberapa fitur yang bisa diterapkan pada RUT955 adalah sebagai berikut. 

Untuk menggunakan fitur dari GPS ini, pastikan service GPS sudah aktif pada perangkat Teltonika. Silahkan masuk ke WebUI Teltonika, kemudian pilih menu Services - GPS. Pada tab General, pastikan Enabled sudah tercentang.

Kita bisa lakukan pengetesan dengan mengetikkan perintah berikut pada CLI Teltonika:
gpsctl -i -x -p
sehingga akan mendapatkan hasil sebagai berikut.
Selain menggunakan CLI, bisa juga mengakses menggunakan WebUI pada menu Services - GPS, pada tab Map. Jika lokasi sudah menunjukkan koordinat yang sesuai, berarti GPS sudah bekerja sebagaimana mestinya.
Pada artikel kali ini kita akan membahas fitur GPS tracking pada Teltonika RUT955. Sebagai contoh, ketika kita memasang perangkat RUT955 pada perangkat mobile (bus/taksi/kendaraan sewa) maka kita bisa melakukan tracking terhadap kendaraan tersebut. Untuk melakukan tracking, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan, yaitu menggunakan platform RMS (Remote Management System) atau menggunakan aplikasi tracking pihak ke-3 (AVL Server).

Tracking dengan RMS (Remote Management System)
RMS (Remote Management System) merupakan suatu platform/aplikasi yang berfungsi untuk memantau atau mengelola perangkat jaringan Teltonika. Salah satu fitur dari RMS ini adalah kita bisa melakukan tracking terhadap perangkat Teltonika yang memiliki fitur GPS. Pembahasan mengenai RMS sudah pernah kita bahas pada artikel sebelumnya yang berjudul [TELTONIKA] Remote Managment System (RMS) -  https://mikrotik.id/artikel_lihat.php?id=385.
Untuk dapat melakukan tracking GPS melalui RMS, kita perlu mengaktifkan monitoring GPS terlebih dahulu.
  1. Buka situs web RMS dan masuk ke akun Anda.
  2. Pilih perangkat dengan melakukan check pada perangkat yang akan di monitor.
  3. Pilih Monitoring pada top action menu dan klik Set update period.
  4. Beri tanda check pada GPS Monitoring.
  5. Tentukan frekuensi waktu parameter GPS akan diperbarui ke dalam RMS.
  6. Setelah selesai, klik Save.
Untuk melakukan tracking GPS, pilih icon Device details, kemudian pilih tab Location. Klik View history, akan muncul jendela popup View History. Tentukan rentang waktu untuk melihat history perjalanan, setelah selesai klik Generate.



Aplikasi Tracking Pihak ke-3 atau AVL Server (Ruhavik)
Banyak aplikasi yang dapat kita temukan di internet yang menawarkan fitur pelacakan GPS, baik yang gratis maupun berbayar. Salah satu aplikasi gratis yang support untuk perangkat Teltonika RUT955 yaitu Ruhavik (https://gurtam.space/ruhavik). Aplikasi ini dapat dijalankan pada platform desktop (web-based) maupun mobile (Android dan iOS). Beberapa fitur unggulan aplikasi ini selain gratis yaitu real-time trackinggeofencing and tracks, dan smart alerts. Namun, ada beberapa batasan dari aplikasi ini, yaitu hanya dapat menambahkan hingga 4 device, serta kapasitas penyimpanan data GPS hingga 50 MB. Data GPS inilah yang akan dikirim dari perangkat Teltonika RUT955 menuju server aplikasi. Selain itu, kita memerlukan nomor IMEI yang akan digunakan ketika menambahkan unit/device. Informasi nomor IMEI dapat ditemukan di WebUI Teltonika pada menu Status - Device.
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan registrasi aplikasi. Lakukan registrasi seperti pada pembuatan akun media sosial lain, dengan memasukkan email dan password, kemudian lakukan aktivasi melalui email yang dikirim ke alamat terdaftar. Setelah aktivasi berhasil, lalu masuk/login menggunakan email dan password.
Untuk menambahkan unit/device, klik pada Create unit atau klik pada tanda plus. Masukkan beberapa parameter yang diminta seperti Name (nama unit/device), ID (nomor IMEI), Device Category, kemudian Icon yang akan ditampilkan, lalu klik Save.

Langkah selanjutnya adalah melakukan setting alamat server AVL dan port yang digunakan pada perangkat Teltonika. Pilih menu Services - GPS, lalu pilih tab AVL.
AVL Server Settings digunakan untuk mengkonfigurasi parameter utama pengiriman data ke server AVL.

  • Enabled: Mengaktifkan atau menonaktifkan pengiriman data ke server AVL.
  • Hostname: Alamat IP atau nama host dari server AVL.
  • Port: Nomor port TCP/UDP dari server AVL yang terhubung dengan router.
  • Protocol (TCP/UDP): Protokol yang akan digunakan untuk komunikasi dengan server AVL.
Hostname dan nomor Port didapatkan dari aplikasi Ruhavik pada Common Settings.
Main Rule menentukan bagaimana dan kapan data GPS akan dikumpulkan dan dikirim ke server AVL yang ditentukan. Main Rule dapat diubah parameternya dengan klik tombol Edit.
  • Enable: Mengaktifkan atau menonaktifkan Main Rule.
  • Rule priority: Prioritas Rule. Pengaturan prioritas yang berbeda menambahkan flags yang berbeda ke paket, sehingga dapat ditampilkan secara berbeda di sistem penerima. Router mengirim data dengan prioritas lebih tinggi terlebih dahulu. Level prioritas dari tertinggi ke terendah adalah sebagai berikut.
               1. Security 
               2. Panic 
               3. High 
               4. Low
  • Collect period: Seberapa sering (dalam detik) data akan dikumpulkan.
  • Min distance: Perubahan jarak minimum (dalam meter) sebelum mengirim catatan.
  • Min angle: Perubahan sudut minimum (dalam derajat) sebelum mengirim catatan.
  • Min saved records: Jumlah minimum catatan yang dikumpulkan sebelum mengirim.
  • Send period: Seberapa sering (dalam detik) data yang dikumpulkan dikirim.